Navigate / search

Program Studi PG PAUD STKIP Santu Paulus Ruteng Gelar Seminar Ilmiah Dosen dengan Tema “Guru Sebagai Pengembang Kurikulum”

Program Studi PG PAUD STKIP Santu Paulus Ruteng menggelar seminar ilmiah Dosen dengan tema “Guru Sebagai Pengembang Kurikulum” pada Rabu (19/12/2018) di Aula Missio STKIP Santu Paulus Ruteng.

Acara dibuka oleh Ketua Program Studi PG PAUD Fransiskus De Gomes, M.Pd. Hadir sebagai narasumber yaitu Elisabeth Sarinastitin, M.Pd., Adriani T. I. Talu, M.Pd., Theresia A. Sum, M.Pd., dan Maria D.V. Banggur, M.Pd. Seminar ini dihadiri seluruh Dosen, Pegawai, dan mahasiswa Prodi PG PAUD STKIP Santu Paulus Ruteng.

Ketua Panitia Seminar Ilmiah yakni Gervasius Adam, M.Or., mengatakan bahwa kegiatan seminar ilmiah Dosen merupakan wadah atau tempat untuk mengomunikasikan segala karya tulis ilmiah Dosen sehingga akhirnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas.

Guru tentunya memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kurikulum pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini. Seperti yang disampaikan Elisabeth bahwa tercapainya tujuan pendidikan anak usia dini sangat ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya adalah guru. Kualitas guru sangat ditentukan oleh kepribadian dan keahlian yang dimilikinya dalam mengimplementasikan kurikulum kepada anak-anak didiknya. Karena kurikulum merupakan sesuatu yang penting dalam mencapai tujuan pendidikan.

Sementara itu, Banggur mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang denganpesat. Pengaruhnya meluas ke berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Pengaruhnya bisa positif atau negatif. Menyikapi keadaan ini, maka peran pendidikan sangat penting untuk mengembangkan dampak positif dan mengatasi dampak negatifnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pengembangan kurikulum berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sesuai dengan salah satu landasan kurikulum itu teknologis, artinya kurikulum harus mampu menyesuaikan dengan teknologi yang ada, mengadopsi dan menjadikannya isi kurikulum untuk dipelajari oleh peserta didik.

Faktor kesehatan dan gizi bagi anak usia dini merupakan salah satu hal penting dalam pengembangan kurikulum. Kurikulum yang dirancang penting memperhatikan kesehatan dan gizi anak usia dini. Hal ni disampaikan Theresia bahwa pendidikan gizi bagi anak seharusnya terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan di lembaga PAUD. Dalam hal ini, lembaga PAUD dapat bekerjasama dengan para orang tua agar memberikan makanan yang sehat bagi anak serta menjelaskan bahaya-bahaya makanan instan lainnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam kenyataannya, pendidikan kesehatan dan gizi bagi anak dianggap bukan tugas guru tetapi tugas pihak kesehatan. Hal yang tidak disadari oleh pendidik PAUD adalah jika seorang anak tidak mendapat gizi, nutrisi yang cukup, interaksi yang baik, dan perhatian dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya, maka pembentukan itu akan berjalan kurang baik.

Selanjutnya, Adriani mengatakan bahwa “Bermain bagi anak usia dini adalah hidup dan hidup adalah permainan. Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar, dan bekerja. Permainan dan alat permainan yang edukatif dapat membantu mengembangkan pelbagai aspek yang ada pada diri anak secara optimal”.

Adriani juga menyampaikan bahwa jenis permainan yang sesuai dengan aspek perkembangan anak usia 4-6 tahun ada dua yaitu berdasarkan tinggi rendahnya keterlibatan anggota tubuh dan berdasarkan keterampilan yang dikembangkan pada diri anak. Guru anak usia dini harus mampu membuat program kegiatan bermain anak berdasarkan usia dan tahap perkembangan anak.

Menutup seminar, moderator mengutip apa yang disampaikan oleh Rhenald Kasali yakni “Ada dua jenis guru yang kita kenal yaitu guru kurikulum dan guru inspiratif. Guru kurikulum sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Sedangkan guru inspiratif bukan guru yang mengejar kurikulum tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif.”

 

Foto:

Descargar musica